Tampilkan postingan dengan label aktivitas anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aktivitas anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013

Mengembangkan Kreativitas Anak Melalui Aktivitas Seni

Sejak di play group atau taman bermain, anak umumnya sudah diperkenalkan pada kegiatan seni yang sederhana. Mulai dari mewarnai, menggambar atau membuat kolase atau tempel-tempelan. Tapi benarkah aktivitas seni merangsang daya kreatifitas anak? Apakah hanya kegiatan seni yang punya peran merangsang kreatifitas anak?

Alangkah bangganya Nadira pada perkembangan putrinya, Nalwa (4 tahun) yang kini sudah pandai mewarnai dengan rapi dan indah. Memang sejak usia 3 tahun, Nalwa sudah dimasukkan ke taman bermain yang kebetulan dekat rumah. Alasannya, agar Nalwa punya kegiatan dan tidak hanya ngendon di rumah yang tidak membuatnya kreatif.

Kini alasan itu terbukti. Jika Nalwa mewarnai tidak ada lagi wama yang keluar dari garisnya. Selain itu dia juga terlihat mahir memainkan padanan warna bahkan tebal tipis nya pun sudah dikuasainya. “Duhh… cantiknya gambar putri mama,” seru Nadira begitu Nalwa memperlihatkan gambar bunga dan kupu-kupu yang bare saja selesai diwamainya Sejak pandai mewarnai, dalam pandangan Nadira, banyak kemajuan yang telah di capai oleh Nalwa.

Jika melihat kertas kosong inginnya selalu menggambar. Tak hanya itu, Nalwa jarkan untuk berpikir dan mengolah masalah dari sudut seni yang tidak kaku, terbuka terhadap berbagai masukan, sehingga dapat menyelesaikan masalah dengan cara yang unik. “Seni mengajarkan anak pada keleluasaan cara berpikir, ide-ide kreatif hingga memandang sesuatu dari yang orisinal, bahkan kemampuan untuk mencari penyelesaian masalah atau problem solving,” urai Rosdiana.

Namun disayangkan Rosdiana, banyak orang yang hanya terpaku pada kegiatan seni saja untuk merangsang kreatifitas anak. Dukungan dari lingkungan, katanya, juga sangat berperan dalam membangun pondasi kreatifitas ini. “Kegiatan lain seperti olah raga, bela diri, dapat mengajarkan anak untuk mengendalikan emosi,” papar Rosdiana yang aktif di Klinik Mutiara Gading, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Seri bela diri dapat mengolah emosi terutama bagi anak yang pemarah, tidak sabaran atau cengeng.

Seni bela diri seperti pencak silat atau taekwondo dan sejenisnya juga memiliki pengaruh besar dalam menyalurkan amarah dan rasa malu. Kedua seni ini sama-sama mengajarkan kebersamaan, kerja sama dan pengendalian diri.

Dengan dukungan dan rangsangan penuh dari lingkungan, maka kreatifitas anak akan muncul. Contohnya, jika anak memilih wama kuning atau coklat pada daun yang akan -diwamainya, jangan salahkan atau langsung menyuruhnya mengganti dengan warna hijau. Barangkali anak sedang berimajinasi bahwa tidak semua daun berwama hijau. Memaksanya untuk mengganti karena beranggapan bahwa wama daun harus hijau, sama artinya memasung kreatifitasnya. Pada akhirnya jika hal itu sering Anda lakukan, kreatifitas anak akan terhenti. “Malas ah, paling nanti mama akan menyalahkan.”

Banyak manfaat yang dapat diambil dari kegiatan seni. Manfaat tersebut tentunya akan berguna juga dalam kehidupan sehari-hari. Kesuksesan anak tidak hanya di ukur dari skor IQ yang tinggi saja. Kehidupan ini tidak di nilai oleh IQ tapi lebih pada kecerdasan seseorang dalam mengolah diri dan lingkungannya Oleh karena itu saran Rosdiana, amat menyedihkan jika anak yang cerdas tidak diberi sentuhan seni. Rosdiana mengakui berdasarkan penelitian, anak yang tumbuh tanpa dibarengi dengan kemampuan seni maka kehidupannya akan menjadi gersang. Anak menjadi kaku, ddak hanya dalam berinteraksi dengan lingkungan tapi juga dalam memandarig persoalannya. “Prosentase keberhasilan seseorang 77 hingga 80% ditentukan oleh Emosional Quation-baru selebihnya Intelegence Quation,” tegasnya. Jika penelitian berkata demikian akankah Anda berpikir sempit tentang ragam kreatifitas seni?

Senin, 24 Desember 2012

Mengenal Aktivitas Anak Sehat Dan Cerdas



Menginjak usia sekitar 13-14 bulan, aktivitas si kecil meningkat tajam. Kemampuannya berjalan tanpa dibantu, memberinya kesempatan seluas-luasnya untuk menyalurkan minatnya : mengeksplorasi sekitarnya.

Kedua tangannya sudah sangat baik gerak motorik dan koordinasinya, membuat si kecil bebas mengikuti gerakan yang dilakukan orang di dekatnya. Demikian pula dengan kedua kakinya yang semakin lama semakin mantap, gerakan menendang, melangkah yang sudah dikuasainya kini diperkaya dengan gerakan memanjat, melompat dan akhirnya berlari kian-kemari.

Sehingga pada umumnya, begitu anak menyadari ia memiliki kemampuan untuk bergerak, maka anak yang sehat akan mengisi hari-harinya dengan berbagai aktivitas. Karena pada usia batita rasa ingin tahunya juga sedang berkembang pesat, maka aktivitas gerakannya pun selalu dikaitkan dengan minatnya untuk menjelajah lingkungan, mencoba kemampuan diri, memanfaatkan benda-benda di sekelilingnya atau berinteraksi dan bersosialisasi dengan seluruh penghuni rumah termasuk binatang peliharaan, maupun anak lain.

Aktivitas khas si kecil

Di antara berbagai aktivitas yang dilakukan, ada beberapa yang sangat khas. Selain berlari, menendang dan berguling, si kecil tampak gemar sekali naik dan melompat-lompat di kursi atau tempat tidur, naik-turun meja, melempar-lempar barang, buka-tutup laci, membongkar barang tertutup, mengeluarkan isi lemari, menarik-narik kabel atau apapun yang terjuntai, sampai menarik-narik ekor binatang di rumah.

Aktif dan gembira

Namun sekalipun ia tampak begitu aktif, sehingga terkesan sepanjang hari waktunya dihabiskan dengan gerakan yang nyaris tiada henti, anak sehat dan cerdas akan tetap terlihat gembira dan ceria. Bahkan nafsu makan maupun pola tidurnya tidak terganggu.

Cerdas dan kreatif

Mengingat kecerdasan si kecil sudah demikian berkembang, pada usia ini anak yang sehat dan cerdas juga sudah mampu diajak berkomunikasi. Maka ia pun jarang menemukan kesulitan dalam beraktivitas. Dengan sedikit petunjuk yang Anda berikan, ia dapat segera menguasai bentuk aktivitas baru yang diminatinya.

Oleh karena itu, anak yang sehat dan cerdas memiliki aktivitas yang lebih beragam. Perkayalah si kecil dengan gerak aktif yang lebih positif. Arahkan si kecil pada aktivitas yang dapat merangsang kemampuan daya kreativitasnya.